Saat Mayoritas Menjadi Minoritas

banner iklan blog
Beberapa waktu yang lalu hampir seluruh lapisan masyarakat di pelosok dunia merayakan tahun baru Masehi. Setiap negara/wilayah berusaha memberikan pertunjukan kembang api nan meriah bagi rakyatnya. Tidak terkecuali di daerah/negara dengan mayoritas warganya beragama Islam. Hal yang bertolak belakang justru terjadi saat peringatan tahun baru Hijrah (1 Muharram). Mayoritas masyarakat muslim di Indonesia bahkan tidak mengetahui kapan jatuhnya tanggal satu Muharram tersebut, apalagi untuk memperingati-nya. Jika benar anda ingat, tanggal berapa satu Muharram dikalender Masehi ? Silahkan anda jawab sendiri tanpa melihat kembali kalender anda. Hal lainnya yang menjadi keanehan di tengah masyarakat yang mayoritas muslim ini adalah mereka lebih mengetahui hari besar agama lain bahkan perayaan lainnya yang tidak di anjurkan dalam syariat islam. Apakah anda tau kapan peringatan Isra’ Mi’raj dan peringatan Maulid Nabi di laksanakan ? Cukup anda jawab menggunakan kalender Masehi, karena cukup susah jika anda harus mengingatnya dalam kalender Hijriah. Pertanyaan lainnya mungkin atau bahkan  anda ingat dengan jelas, hari natal jatuh tanggal berapa ? dan tahukah anda tanggal berapa orang merayakan Valentine Day’s ? saya yakin anda semuanya akan sangat mudah menjawab pertanyaan tersebut di bandingkan dua pertanyaan sebelumnya.
Lantas apakah yang menyebabkan kita sebagai umat islam lebih mengingat dan merayakan perayaan yang dilarang dalam ajaran agama tersebut di bandingkan mengingat hari-hari besar Islam itu sendiri. Jika anda menjadikan penandaan pada kalender sebagai alasannya, saya rasa itu bukanlah sebuah alasan. Simak kembali kalender Masehi yang ada di dinding rumah anda. Apakah ada perbedaan antara perayaan atau hari-hari besar umat beragama ? Jelas tidak. Semua penerbit kalender memberikan warna merah sebagai hari perayaan atau hari besar umat beragama. Tidak hanya tahun baru Hijriah, perayaan natal, tahun baru masehi, kenaikan isa almasih, dan lainnya di berikan tanda merah pada angkanya. Lalu apa yang menyebabkan kita selaku umat muslim justru terkadang lupa dengan hari besar agama kita sendiri.
Berada di negara dengan mayoritas justru menjadi minoritas, tepat sekali. Indonesia adalah negara dengan mayoritas penduduk beragama islam terbesar di dunia. Tapi, pernahkah anda mendengar atau melihat peringatan hari besar kita di lakukan secara nasional ? Selain idul fitri yang bahkan penetapan-nya pun masih amburadul, kita tidak bisa menyaksikan-nya dalam lingkup nasional. Idul Fitri yang menjadi hari besar umat muslim justru di buat seperti sebuah permainan ketika menentukan kapan akan di laksanakan. Idul Fitri 1432 H yang lalu menampilkan wajah baru di dunia Penetapan Idul Fitri oleh pemerintah. Di saat negara lain telah memutuskan jatuhnya tanggal Idul Fitri sebelum masuk waktu Isya’, pemerintah Indonesia justru menimbulkan kerancuan di tengah masyarakat. Di saat pemerintah tengah sibuk menatap hilal, yang hingga isya’, belum menemukan titik terang, sedangkan di luar sana sebagian besar umat muslim telah mengumandangkan takbir kemenangan di angkasa.
Di saat pemerintah menetapkan penundaan Idul Fitri yang telah di jadwalkan sebelumnya, masyarakat terlihat kecewa. Mereka telah melewatkan satu malam untuk sholat Tarawih akibat kelalaian pemerintah. Siapa yang bisa menggantikan masalah rohaniah ini ? Secara perhitungan pun, satu syawal justru terhitung sejak jam 10.00 WIB di keesokan harinya. Sebagai umat muslim, kita mengetahui bahwa satu syawal adalah hari yang di haramkan untuk berpuasa. Sekali lagi, dimana keberadaan pemerintah saat kejadian ini muncul ?? melihat kenyataan tersebut, saya menjadi teringat sebuah ayat dalam al-qur’an yang melarang kita umat muslim memilih pemimpin dari kaum yang lain agar agama dan akhlak kita tidak di per-mainkan.
Tingginya angka korupsi di negara ini semakin mempertegas betapa aparat pemerintahannya tidak lagi berpegang teguh kepada ajaran agama. Mereka lebih memikirkan kehidupan di dunia tanpa memikirkan risikonya bagi khalayak banyak. Jangankan untuk memikirkan akhirat, memikirkan resik atas perbuatan (korupsi) yang mereka lakukan pun tidak mereka lakukan. Sebuah kenyataan yang sangat ironis memang, menjadi negara dengan mayoritas penduduk beragama islam tapi justru kelakuannya menggambarkan sebuah negara dengan minoritas muslim. Bahkan kenyataan di negara ini lebih mengerutkan dahi di bandingkan dengan keadaan di negara komunis seperti Korea Utara.
Menjalankan sistem pemerintahan yang berlandas-kan agama menjadi suatu keharusan di bumi Indonesia ini. Sudah terlalu banyak kebohongan yang di lakukan oleh para atas terhadap bawahannya. Sudah begitu banyak kerugian yang di derita oleh rakyat dan sudah sepantasnya lah agama di jadikan pedoman di dalam kepemimpinan. Peran agama di dalam kehidupan seperti di tuangkan oleh Mutadha Muthahhari adalah sebagai berikut :
  • Ilmu mempercepat anda sampai ke tujuan, agama menentukan arah yang dituju.
  • Ilmu menyesuaikan manusia dengan lingkungannya, dan agama menyesuaikannya dengan jati dirinya.
  • Ilmu hiasan lahir, dan agama hiasan batin.
  • Ilmu memberikan kekuatan dan menerangi jalan, dan agama memberi harapan dan dorongan bagi jiwa.
  • Ilmu menjawab pertanyaan yang dimulai dengan “bagaimana”, dan agama menjawab pertanyaan yang dimulai dengan “mengapa”.
  • Ilmu tidak jarang mengeruhkan pikiran pemiliknya, sedangkan agama selalu menenangkan jiwa pemeluknya yang tulus.
banner iklan blog
Labels: Opini

Terima kasih telah membaca artikel Saat Mayoritas Menjadi Minoritas. Semoga bermanfaat

0 Comment for "Saat Mayoritas Menjadi Minoritas"

Terimakasih telah mengunjungi Blog Nuzil.
Semoga informasi yang ada di blog ini bermanfaat.

Back To Top