Lamar Saja Dia

banner iklan blog
lamar saja dia
Blog Nuzil - Namanya Via, seoarang gadis desa yang di idolai oleh banyak pria di desanya. Bisa dibilang Via adalah bunga desa yang paling mekar di desanya. Meski di desanya banyak terdapat gadis-gadis yang cantik, tapi pesona Via tidak bisa mengalihkan sebagian besar pandangan para pemuda kepada gadis lainnya. Tidak hanya satu atau dua pemuda yang menaruh hati kepada pesona seorang Via, tapi hampir sebagian besar pemuda di desa tersebut jatuh hati kepada seorang Via.
Tidak berbeda dengan pemuda lainnya, aku yang hidup lama di perantauan pun ikut “terjebak” kedalam pesona kembang desa bernama Via itu. Awalnya aku tidak begitu menaruh hati kepada dia, bahkan meski dia sering berkunjung kerumah ku bersama temannya (kebetulan teman dia masih sepupuan sama aku) aku malah cuek dan tidak peduli dengan kehadirannya. Jangankan tergoda, sekadar menyapa pun tidak aku lakukan. Jika mengingat masa-masa itu, aku terkadang jadi heran sendiri apa yang terjadi sebenarnya pada diriku pada saat itu. Grogi, gregetan, gak peduli, atau takut ? Entahlah karena aku sendiri gak bisa menjawabnya hingga saat ini.
Oh iya, sebelum terlalu jauh melangkah ada baiknya aku memperkenalkan diriku terlebih dahulu. Nama aku Quilla, aku anak desa yang lama hidup di perantauan. Masalah usia mending jangan di bahas ya, gak enak sama yang tua-tua ntar malah merasa di ejek lagi kalau ngebahas usia (peace mas bro :-D ).
Back to the topic, awal kisah aku jatuh hati kepada si gadis bunga desa yang bernama Via ini  saat aku duduk di bangku perkuliahan. Berhubung jauhnya jarak yang memisahkan, komunikasi kami hanya bisa berlangsung melalui telepon. Selama berkomunikasi, aku dan dia tidak terdengar grogi, canggung, atau hal setipe lainnya, karena obrolan kami begitu lepas dan nyambung. You can belived it or not, pada kenyataannya saat kami bertemu di kehidupan nyata, kami justru lebih banyak diamnya dibandingkan bicaranya. Entah itu saat kami ngobrol berdua atau pun saat bersama dengan teman-teman lainnya.
Dua tahun pasca awal aku jatuh hati kepada si bunga desa bernama Via, akupun akhirnya menyelesaikan bangku perkuliahan dengan tambahan nama di belakang nama saat didaftarkan di akta kelahiran. Aku memutuskan untuk istirahat sejenak dari hiruk pikuk dunia luar dan kembali ke kampung halaman. Bukannya aku ingin menjadi sarjana pengangguran apalagi menambah besar tingkat pengangguran di Indonesia, tapi aku memilih untuk menenangkan hati dan pikiran setelah sekian tahun di dunia perkuliahan.
Dimasa inilah aku mengetahui bahwa Via bukan sekadar gadis biasa. Apakah Via bisa berubah layaknya Power Rangers ? atau dia memiliki kekuatan khusus layaknya Cat Woman ? tentu saja tidak seperti itu. Via berbeda dengan kebanyakan gadis-gadis desa lainnya yang suka berdandan menor atau make-up serba berlebihan. Via lebih terlihat sederhana dengan make-up minimalis yang mana hal itu menjadikannya idola bagi para pemuda.
Hingga pada suatu hari, saat aku berkumpul dengan teman-teman dan bercanda mengenai Via. Obrolan dan candaan kami awalnya kebanyakan bohong dan ngayalnya dibandingkan kenyataan, ya namanya juga cowok kalau lagi ngumpul ya obrolannya pasti kebanyakan ngibulnya. Pembahasan mengenai Via pun tidak terelakkan, segala imajinasi pun muncul kepermukaan dari hal-hal yang diluar akal sehat hingga hal kecil yang tidak perlu dibahas.
Entah karena bosan atau bagaimana, salah seorang teman (sebut saja namanya Satria) mengusulkan bagaimana kalau diantara kami yang menaruh hati kepada Via untuk melamar saja dia langsung. Berhubung usia kami memang sudah bisa tergolong layak untuk melakukan hal tersebut. Aku yang sedari awal memang tidak begitu update dengan info yang berhubungan dengan Via merasa kaget saat Varol melanjutkan usulan dari Satria tersebut. Varol seperti menyetujui usulan Satria itu sembari menambahkan bahwa sebelumnya sudah ada beberapa orang yang melamar si Via tapi tidak ada yang berhasil meluluhkan hati Via dan orang tuanya.
Masih dalam kondisi kaget ini, Koko menyahut ucapan Varol dengan kalimat yang tergolong setengah bercanda. “Benar juga tuh, gak beberapa lama ini sudah ada beberapa orang yang melamar dia,tapi ditolak semua. Padahal terdiri dari beberpa tipe loh, ada yang jelek, ganteng, PNS, dan penggangguran. Kalau udah kayak gitu, Via doyannya cowok yang kayak gimana ya ?.” Mendengar ucapan Koko, sontak kami berlima pun tertawa kecil dengan (mungkin) menerka seperti apa tipe cowok yang menjadi impian si Via.
Usulan lamaran langsung ini ternyata membuat Gera yang dari awal lebih banyak tertawa ikut angkat bicara.  “Jika yang jelek dan ganteng aja di tolak, gimana dengan kita ya yang mau dibilang jelek gak, di bilang tampan juga gak. Jangan-jangan gak ada lagi diantara kita yang tipenya si Via itu”.
Eits….mendengar ucapan Gera yang seolah-olah mencap tampang kami pas-pasan, Varol yang orangnya memiliki tingkat kepedean paling tinggi diantara kami tidak tinggal diam, dengan sebuah gerakan cepat dia memotong ucapan Gera. “Yang ditolak sama Via itu kan mereka yang tampangnya pas-pasan. Mau dibilang jelak, jelek banget. Mau dibilang tampan tapi gak tampan. Kalau wajahnya tampan kayak aku, pasti bakalan diterima deh lamarannya sama si Via. Aku yakin banget deh bakal jadi pasangannya Via”. Tawa kami pun meledak memenuhi ruangan setelah ucapan Varol tersebut berakhir.
Aku yang sejak kami membahas mengenai lamar saja dia langsung lebih banyak diam dan tersenyum hanya bisa berfikir dan menerawang mengenai apa yang Satria ucapkan itu. Memang ada benarnya juga apa yang Satria utarakan itu, daripada hanya bermimpi untuk menjadi pasangannya kepada tidak langsung saja aku melamar Via, toh usia kami berdua pun tidak termasuk muda untuk menuju pelaminan. Ditengah lamunan aku tersebut aku tersadar satu hal yang membuat aku tidak bisa mewujudkan hal tersebut. Bukan karena aku jelek a.k.a tidak ganteng, ataupun karena kami tidak begitu akrab dikehidupan nyata, tapi status aku yang hanya seorang pengangguran inilah yang membuat aku berfikir ulang untuk melamarnya.
Tawa kami malam itu (dan renungan aku pastinya) mengenai hal yang berhubungan dengan Via berakhir seiring dengaan berbaik hatinya PLN menghidupkan listrik kembali. Jam telah menunjukkan jam 12.00 malam, kami berlima pun serempak membubarkan diri tanpa tau apa yang ada dipikiran masing-masing mengenai sebuah kalimat pendek, lamar saja Via langsung.
banner iklan blog
Labels: Cerpen

Terima kasih telah membaca artikel Lamar Saja Dia. Semoga bermanfaat

0 Comment for "Lamar Saja Dia"

Terimakasih telah mengunjungi Blog Nuzil.
Semoga informasi yang ada di blog ini bermanfaat.

Back To Top