Ad Code

Responsive Advertisement

Laporan Total Station Bab I

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Pada era pembangunan dewasa ini ketersediaan peta menjadi sesuatu hal yang tak dapat ditinggalkan, terlebih-lebih untuk pembangunan fisik. Sebagaimana kemajuan di bidang ilmu dan teknologi yang demikian pesat, wahana atau teknik pemetaan pun sudah sedemikian berkembang, baik dalam hal teknik pengumpulan datanya maupun proses pengolahannya dan penyajiannya baik secara spesial maupun sistem informasi kebumian lainnya. Cakupan wilayah kajiannya pun menjadi tidak terbatas, demikian pula wilayah kerjanya.
Proyeksi peta merupakan suatu sistem yang memberikan hubungan antara posisi titik-titik di permukaan bumi dan di atas peta. Permukaan bumi fisis yang tidak teratur mengakibatkan hubungan matematis antara posisi di permukaan bumi dan posisi di atas peta sulit ditentukan. Oleh karena itu diambil pendekatan permukaan bumi fasis yang mudah diurai secara matematis dan mendekati bentuk bumi yang sebenarnya, yaitu bentuk elipsoid dengan ukuran-ukuran yang tertentu. Bentuk ini pun ternyata masih agak sulit diurai secara matematis, sehingga diambil pendekatan kedua yang lebih simpel yaitu bentuk bola, dengan jari-jari 6370.283 km.
Namun dengan bantuan komputer, perhitungan-perhitungan yang pada awalnya dirasa sulit sekarang sudah tidak menjadi masalah lagi, sehingga perhitungan dapat langsung dilakukan dari bidang elipsoid ke bidang proyeksi.
Posisi titik pada permukaan bumi yang berupa bidang lengkung biasanya dinyatakan dengan lintang dan bujur, sedangkan posisi titik pada peta yang berupa bidang datar dinyatakan dengan koordinat kartesian (x,y), karena sulit untuk mendatarkan bidang lengkung tanpa adanya perubahan-perubahan atau distorsi, baik distorsi luas, jarak, bentuk, maupun arahnya. Bidang proyeksi yang biasa didatarkan antara lain bidang datar itu sendiri, kerucut dan bidang silinder. Sistem proyeksi yang menggunakan bidang datar sebagai proyeksi dinamakan proyeksi azimuital, yang menggunakan bidang kerucut dinamakan proyeksio konik, dan yang menggunakan bidang silinder dinamakan proyeksi merkator.
Pengukuran adalah pengamatan terhadap suatu besaran yang dilakukan dengan menggunakan peralatan dalam suatu lokasi dengan beberapa keterbatasan yang tertentu. Pengukuran-pengukuran yang dilakukan tidak lepas dari keasalahan-kesalahan pengamatan. Kesalahan dalam pengamatan dapat digulongkan menajdi tiga jenis, yaitu :
• Kesalahan kasar (mistake / blunders)
• Kesalahan sistematik (systematic error)
• Kesalahan random / tidak terduga (occidental erro)
Sumber kesalahan pengukuran antara lain :
• Dari si pengukur (personal error)
• Dari alat ukur yang digunakan
• Dari alam

Ketiga jenis kesalahan dalam pengukuran di atas dan cara-cara pemecahannya sebagai berikut :
A. Kesalahan Kasar
Kesalahan ini terjadi karena kurang hati-hati, kurang pengalaman, atau kurang perhatian. Dalam pengukuran, jenis kesalahan ini tidak boleh dilakukan. Apabila diketahui ada kesalahan kasar maka dianjurkan untuk mengulang seluruh atau sebagian pengukuran tersebut. Untuk menghindari terjadinya jenis kesalahan ini antara lain dapat dilakukan pengukuran lebih dari satu kali, atau pengukuran dengan model dan teknik tertentu.

B. Kesalahan Sistematik
Umumnya kesalahan sistematik disebabkan oleh alat-alat ukur itu sendiri, kelasahan ini juga dapat terjadi karena cara-cara pengukuran yang tidak benar. Jadi, sifat kesalahan ini jelas dan akibat kesalahan ini dapat dihilangkan antara lain dengan cara :
• Sebelum digunakan untuk pengukuran, alat harus dikalibrasi terlebih dahulu
• Dengan cara-cara pengukuran tertentu, misalnya dengan pengamatan biasa dan luar biasa dan hasilnya dirata-rata
• Dengan memberikan koreksi pada data ukuran yang didapat
• Koreksi pada pengolahan data

C. Kesalahan Random
Kesalahan random terjadi karena hal-hal yang tak terduga sebelumnya, seperti adanya getaran udara atau undulasi, kondisi tanah tempat berdiri alat ukur yang tidak stabil, pengaruh kecepatan angin, atau kondisi anmosfer, dan kondisi psikis pengamat. Kesalahan ini baru terlihat pabila suatu besaran diukur berulang-ulang dan hgasilnya tidak selalu sama antara satu ukuran dengan ukuran yuang lain dan dalam jumlah yang besar distribusi dari nilai-nilai tersebut akan mengikuti kurva normal dari Gauss.
Untuk menghilangkan pengaruh jenis kesalahan ini, dapat dilakukan dengan beberapa cara, antara lain :
• Pengaruh kesalahan ini dibuat sekecil muingkin dengan penyempurnaan alat ukur yang digunakan
• Dengan aturan teretentu dalam proses pengambilan data, misal pengambilan data pagi jam 07 s/d 11, sore jam 14 s/d 17, dan alat ukur dipayungi
• Dengan metode pengolahan data tertentu.

2. Tujuan
Tujuan dari survey dan pemetaan ini adalah untuk pengembangan dan pemanfaatan Lahan Basah (Wet Land)

3. Waktu Dan Lokasi
Kegiatan ini dilaksanakan dari tangga xx Oktober sampai dengan xx Oktober 2016 yang berlokasi di Rawa Arah Seratus

4. Prinsip Dasar Pengukuran
Untuk menghindari kesalahan – kesalahan yang mungkin terjadi, maka tugas mengukur harus didasarkan pada prinsip pengukuran yaitu:
a. perlu adanya pengecekan yang terpisah 
b. tidak adanya kesalahan – kesalahan dalam pengukuran.

Post a Comment

0 Comments

Close Menu